Sebuah Pandangan Mengenai Cinta

 Sebuah Pandangan Mengenai Cinta

by benaya 

    Nama saya Benaya, dan ini adalah cerita saya tentang cinta. Ketika saya menulis ini, umur saya 17 tahun dan saya telah merasakan jatuh cinta berkali-kali. Cinta memiliki berbagai definisi, dan saya memilih untuk tidak terikat oleh definisi-definisi tersebut. Apakah saya akan membawa siapa cinta pertama saya? Dengan mudah saya bisa mengatakan itu adalah ibu saya. Namun saya ingin mendefinisikan cinta yang  ingin saya ceritakan adalah cinta yang terkotakkan dalam sebuah romantisme yang cukup kompleks.

Semua dimulai dari Sekolah Dasar. Ketertarikan saya pada orang lain muncul di kelas 4 SD. Saya tertarik pada beberapa teman baik saya, teman les yang berbeda agama, dan sepupu saya yang paling membuat saya tergila-gila. Saya sudah tidak konsisten dalam menyukai satu orang saja, saya memulai dengan keberagaman seperti di tempat pemilahan. Seiring naik kelas, saya tetap menyukai banyak teman dan semuanya berlangsung seperti cinta monyet. Di kelas 6, saya mulai mengerti tentang kesetiaan dalam hubungan, saya hanya menyukai seorang teman dan tidak ada lagi. Di akhir semester saya mencoba mengungkapkan perasaan saya dan saya diterima. Sungguh mengejutkan bagi saya karena saya bentukannya seperti singkong bakar dan dia seperti bidadari. Saya mengawali dunia per-pacaran dari sekolah dasar wkwkwkwk. Semuanya berjalan alay sampai tiba masa perpisahan sekolah. 

Perpisahan Sekolah juga menjadi awal perpisahan kami, sebuah dilema bagi seorang anak kecil yang hendak masuk sekolah menengah pertama harus dipisahkan oleh institusi sekolah. Kami putus. Itu menjadi patah hati romantis pertama saya. Awalnya saya merasa hampa namun ketika saya melangkah maju saya tidak begitu merindukannya. Di SMP saya lebih parah lagi KWAOKDOWAIE YUJAWIDO;JSwduwfekHq, saya lagi dan lagi menyukai teman sekelas saya dan dua duanya berbeda keyakinan dengan saya, yang satu kami pacaran dan satu lagi ternyata pasaran. Cinta beda agama itu aneh, ketika saya seorang yang taat diuji oleh perasaan yang kompleks membuat sebuah kebingungan dan akhirnya saya memutuskan untuk berhenti.

Namun, di kenaikan kelas berikutnya saya tertimpa lagi oleh sebuah kasus yang sama, saya pacaran lagi dengan kakak kelas yang berbeda agama. Saya suka padanya ketika diadakannya ujian dan saya mengungkapkan perasaan saya di depan guru bahasa inggris dan dia menerimanya, dua minggu kemudian dia putuskan saya dan jadian dengan mantannya. Sebelumnya saya juga pernah suka dengan kakak kelas yang lain namun itu tidak berjalan dan tidak ada status yang tercipta. Di SMP saya pacaran dua kali dan total total durasi hubungan jika digabungkan tidak sampai sebulan. MANTAP. 

2019 menjadi tahun penuh perubahan dan menjadi pandangan baru untukku terkhusus mengenai cinta. Seorang manusia datang ke wilayah rumahku menjadi seorang yang baru nan rupawan dan cukup mengesankan. Namanya....  ya itulah. Saya tertarik padanya dan ironinya teman saya juga. Yang paling keren dari semuanya adalah dia juga tertarik pada teman saya. Saya diuji kembali oleh sebuah cinta yang saya selalu ditampar olehnya, kali ini saya tidak ditampar namun ditusuk dan dicincang. Saya menjadi perantara diantara mereka berdua, saya yang menghubungi si gadis ini melalui hp teman saya dan dia beranggapan bahwa itu adalah teman saya. Sungguh menyakitkan bukan ketika kamu harus membuat orang yang kamu sukai menyukai orang lain yaitu temanmu. Sungguh berat namun ya itu kenyataannya.

Namun semua berubah, ketika kami akhirnya bisa mengobrol langsung di sebuah Pendalaman Alkitab dan saya berkesempatan untuk memberinya tumpangan ke rumah, saya cukup senang sekali dan timbul gugup di sana. Sebuah pandangan baru bagi saya untuk merasakan atmosfer itu. Saya merasa senang dan saya memberanikan diri untuk mengobrol via whatsapp dengannya. Kami mulai dekat dan saya juga cukup berani untuk mulai mengungkapkan rasa tersebut. Saya merangkai kata yang amat panjang dan mengirimnya disertai lemparan hp ke tempat yang jauh. Ketika saya mendapati responnya sungguh mengejutkan, orang yang begitu sempurna bisa mengatakan bahwa dia punya perasaan padaku. Namun kami sepakat untuk tidak membuat sebuah hubungan terkait beberapa hal. 

Kami menjalani hari hari dengan cerita namun saya mendapati sebuah kelemahan di dalamnya. Bahwa tidak ada komitmen disana saya masih berumur 13 tahun dan itu cukup membukakan pikiran saya bahwa ini rumit. Ketika beliau sakit saya punya inisiatif untuk berkunjung ke rumah, namun beliau selalu berpesan bahwa ia takut jika orang tuannya mengetahui ia dekat dengan laki laki dalam urusan romantis. Namun saya nekat saya membawakan sebuah buku dan 4 buah donat, saya berbekalkan sebuah ekspektasi gembira dan saya pulang juga sama. Namun, ketika sampai di rumah saya tergilas oleh sebuah paragraf darinya yang menyatakan untuk tidak ada lagi pesan dan gangguan dariku. Itu adalah awal mulanya diriku punya penyakit sesak. Namun saya sadar pasti ada alasan dibaliknya,

3 Bulan setelahnya, kami berjumpa lagi dan saya bertanya mengenai alasannya, "apakah karena aku datang menjenguk?", "Iya katanya". Ini merupakan berita baik bagiku karena alasannya adalah ketakutannya jika saya pergi ke rumahnya bukan karena dia tidak suka lagi padaku. YEY! Kami memulai kembali sebuah rangkaian itu dan kembali lagi tidak berjalan juga. Ada beberapa hal dan ya memang kami tidak bisa bersama.  Waktu berlalu, dia mulai suka terhadap orang lain dan saya tidak punya kuasa apa apa. 

Pada masa COVID, saya menemukan sebuah versi unik dari diri saya, saya mulai banyak membaca buku dan belajar karena minimnya pertemuan yang bisa saya lakukan dengan teman, saya mulai membekali diri saya dengan sebuah ilmu filsafat. Saya belajar itu kemudian saya menjadi versi berbeda yang lebih dewasa. 

Awal masuk Sekolah Menengah Atas, saya dijumpai dengan teman percintaan saya pada sekolah dasar, namun saya tidak merasa canggung, beliau yang merasa begitu. Saya mulai terlihat dewasa pada teman teman karena sebuah versi yang berbeda bagi yang sudah mengenal saya sebelumnya. Bagaimana dengan percintaan saya? Di awal kelas sepuluh saya suka kembali dengan teman yang berbeda keyakinan dan dua yang berkeyakinan sama, satu kakak kelas dan satu lagi teman sekelas lagi. Ketiganya tidak berhasil, dan saya mulai menguji diri saya apakah saya tau apa itu cinta. 

Di SMP ada seorang teman saya yang mengatakan "Ben, kisah cintamu selalu tragis." Beliau mengatakan itu karena track record saya pada SMP dan itu terbukti kembali di SMA saya kembali menjadi orang dengan percintaan yang buruk. Kelas selanjutnya saya mulai kembali dikejutkan saya menyukai orang yang sama dengan orang yang saya sukai di SMP dulu, kami berpacaran cukup lama namun saya tidak layak menjadi seorang pasangan. Saya mendapati pertanyaan apakah selama ini lawan mainku yang salah? Atau saya yang tidak layak untuk punya seorang teman romantis? Kami berpisah dan saya adalah pasangan yang buruk.

Beberapa bulan kemudian saya kembali suka kepada teman sekelas saya, kami berpacaran dan saya kembali lagi melakukan banyak kekeliruan dan saya merasa cukup untuk tidak merugikan orang lagi. Saya memutuskan berhenti dan kami selesai. Itu semua keburukan saya.

Dua kasus belakangan membuat saya sadar bahwa saya belum berkapasitas, dan saya cukup buruk menjadi seorang pasangan. Dan tibalah kita pada bagaimana pandangan saya mengenai cinta sekarang?

Yang awalnya saya merasa itu adalah sebuah keanekaragaman dengan menyukai banyak orang, kemudian saya mengupgrade kepada pengecualian yakni sebuah kesetiaan, saya melanjutkan dengan cinta dalam keberbedaan atau kepelbagaian layaknya keyakinan, dan saya berada pada sebuah padangan mengenai ketidakberlayakan saya dalam mengolah cinta. 

Apa sekarang? Konsekuensi dari semuanya adalah saya tidak bisa jatuh cinta.

Saya sudah mencoba berkali kali untuk suka dengan orang lain, namun saya mendapati sebuah tolok ukur yang sungguh unik yakni ketika saya berpikir dia akan meninggal dan saya tidak sedih ataupun merasa kehilangan, maka saya tidak cinta. Di situlah problem percintaan saya sekarang. Saya tidak punya rasa cinta dalam konteks teman romantis. 

Ini pandangan saya sejauh ini, dan saya rasa ini menjadi langkah bagi saya untuk menemukan kedewasaan baru mengenai hal lain, kelak saya bisa merasakan apa itu jatuh cinta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buah tomat.

Junior High School